Wednesday, July 16, 2008

Pengentasan Kemiskinan Berbasis Qalbu

Dalam pidato Presiden tanggal 16 Agustus 2007 Di Depan Rapat Paripurna Dewan perwakilan Rakyat Republik Indonesia mencanangkan program “Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Untuk Mengurangi Kemiskinan Dan Pengangguran” untuk program pemerintah tahun 2008. kalau diperhatikan dengan seksama sudah begitu banyak program dan model yang diterapkan pemerintah untuk mengurangi kemiskinan seperti program IDT, program TAKESRA/KUKESRA yang didasarkan atas Inpres 5/1993 dan Inpres 3/1996, PPK (Program Pengembangan Kecamatan) dan yang belakangan dilakukan adalah program Bantuan Tunai Langsung, Namun hal itu tidak berjalan dengan semestinya walaupun dalam laporan tahunan pemerintah selalu mengatakan telah terjadi penurunan angka kemiskinan yang signifikan. Hal ini terlihat dari laporan Bank Pembangunan Asia dalam key Indikators 2007dilihat dari kurva lorenz yang tampilkan untuk Indonesia, terlihat tidak ada perubahan yang berarti pada penanggulangan kemiskinan dari tahun 1993 sampai 2002.
Hal ini apakah merupakan kegagalan pemerintah dalam menjalankan program atau programnya yang tidak baik? Belum tentu. Sudah banyak akar masalah yang diutarakan oleh para ahli sosial maupun ekonomi yang menyebabkan kemiskinan dan sudah banyak pula solusi yang diberikan sebagai masukan kepada pemerintah dalam program pengentasan kemiskinan. Terlepas dari apakah solusi yang diberikan oleh para ahli dipakai oleh pemerintah atau tidak dalam program pemerintah dalam pengurangan kemiskinan, penulis berpendapat bahwa pengentasan kemiskinan akan sangat sulit dilakukan jika mental dari masyarakat Indonesia tidak diperbaiki. Untuk itu pengentasan kemiskinan harus berbasis qalbu (meminjam istilah aa gymnastiar). Fenomena yang terlihat di lapangan adalah ketika pemerintah menggulirkan Bantuan Tunai langsung kepada masyarakat miskin, maka masyarakat yang berada di atas garis kemiskinan pun berusaha untuk mendapatknya, tentunya dengan melakukan kolusi dengan petugas pendataan. Ketika ada beasiswa bagi orang tidak mampu di kampus misalnya, maka Orang Kaya pun berusaha mendapatnya walaupun harus mengurus surat keterangan miskin dari kecamatan bahkan walikota atau bupati sekalipun. Padahal berdasarkan defenisi kemiskinan menurut berbagai lembaga nasional maupun Internasional seperti: Bappenas (Tidak mampu memenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat, BPS (Bilamana jumlah rupiah yang dikeluarkan atau dibelanjakannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kurang dari 2.100 kalori per kapita), BKKBN (Sebuah keluarga dikatakan miskin apabila (a) Tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya, (b) Seluruh anggota keluarga tidak mampu makan dua kali sehari, (c) Seluruh anggota keluarga tidak memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah, dan bepergian, (d) Bagian terluas dari rumahnya berlantai tanah, dan (e) Tidak mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan, dan Bank Dunia (Tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 1,00 per hari).
Kalau mengacu pada defenisi kemiskinan diatas maka tidak satupun dari sebagian penerima bantuan memenuhi kriteria miskin diatas, namun mereka tetap memaksakan diri untuk mendapatkan bantuan yang tidak semestinya untuk mereka. Gejala apa ini?, apakah benar mereka ditidak memiliki uang, tidak!. Yang tidak dimiliki sebagian besar masyarakat Indonesia adalah Budaya malu. Darimana budaya malu itu muncul?, budaya malu itu akan muncul kalau qalbu(hati) dari setiap Insan itu bersih. Jika hati seorang Insan itu bersih maka nilai – nilai ke-Tuhanan akan bersemayam di hatinya. Pancaran Nilai ke-Tuhanan itu akan melahirkan prilaku-prilaku yang beradab. Jadi menurut penulis inilah Pekerjaan Rumah kita semua. Bagaimana melakukan semua hal berbasis qalbu (hati) yang memiliki nilai-nilai ke- Tuhanan. Yang akan memunculkan mata air kebaikan termasuk didalamnya budaya malu, tidak suka mengambil yang bukan miliknya. Kalau hal ini sudah tertanam pada setiap diri masyarakat Indonesia. Maka Program apa saja pun yang sudah disiapkan pemerintah dengan matang akan terimplementasi dengan baik dan tepat sasaran, sehingga Kemiskinan dapat hilang di Bumi Pertiwi ini yang berganti dengan kemakmuran. Sudah waktunya kita kembali ke jati diri bangsa Indonesia. Yang lebih mengutamakan sifat gotong – royong dalam pengentasan kemiskinan dan bukan bergotong royong dalam menghabiskan dana pengentasan kemiskinan.
Dan Sudah waktunya para ahli memasukan defenisi kemiskinan spritual dalam konsep kemiskinan, sehingga tidak melulu melihat permasalahan kemiskinan dari sudut pandang kemiskinan materil individu. Karena kemiskinan spritual juga memiliki dampak merusak yang sangat besar dibanding dengan kemiskian material dan biasanya kemiskinan spritual lebih memicu individu membuat kerusakan dibandingkan dengan kemiskinan material. Kemiskinan spritual yang penulis maksud adalah hilangnya nilai – nilai luhur pada diri individu sehingga tidak memiliki pedoman yang benar dalam melakukan segala tindakan. Memang sangat sulit untuk melihat indikator kemiskinan spritual individu, karena mungkin ada orang yang terlihat baik namun kenyataanya tidak baik, ada orang yang kelihatannnya jahat padahal dia baik. Namun untuk mendapatan solusi pengentasan kemiskinan yang melingkupi berbagai aspek sudah saatnya para ahli ekonom melibatkan unsur – unsur lainnya seperti pemuka agama, ahli Ilmu sosial dan sebagainya dalam pembuatan dan implementasi model pengentasan kemiskinan dan diharapkan program kerja pemerintah tahun 2008 dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran dapat terlaksana dengan baik dan tepat sasaran. Bukan hanya sekadar pelaksanaan kegiatan dan penyusunan laporan tetapi lebih kepada solving problem bagi masyarakat miskin.

PENCULIKAN TERJADI AKIBAT KEMISKINAN?

Peristiwa penculikan Raisyah Ali dari sekolahnya beberapa waktu lalu sempat menggemparkan masyarakat Jakarta bahkan Presiden harus ikut turun tangan untuk menhimbau penculik mengembalikan si anak kepada orang tuanya. Dengan kesigapan Kepolisian Akhirnya membuahkan hasil dengan di tangkapnya penculik Raisyah Ali sekaligus mengembalikan Raisyah Ali kepada orang tuanya. Dari introgasi yang dilakukan oleh pihak penyidik kepolisian kepada tersangka didapat bahwa alasan penculikan dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Benarkah penculikan yang terjadi terhadap anak – anak khususnya dikarenakan faktor ekonomi saja, karena hal ini selalu disampaikan tersangka jika tertangkap oleh pihak kepolisian.
Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, maka kita harus akui bahwa faktor ekonomi bukanlah faktor utama dari setiap kejadi penculikan, khususnya penculikan Raisyah Ali. Tetapi karena sudah hilangnya nilai-nilai ke – Tuhanan dari diri manusia itu sendiri. Kerusakan Rohani manusia mengakibatkan rusaknya qalbu (hati) yang menjadi wadah dari pancaran sinar ke Tuhanan. Rusakanya qalbu manusia itu akan digantikan dengan sifat – sifat binatang yang ada pada diri manusia itu sendiri. Kerusakan Rohani itu sendiri bukan hanya bisa terjadi pada preman bahkan orang yang dianggap baik juga bisa terkena. Akibat yang akan ditimbulkan dari sifat manusia itu adalah menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena sudah tidak ada lagi panduan dari hati nuraninya. Bukannya masih banyak orang yang mengalami kekurangan memenuhi kebutuhan hidup, tetapi mengapa mereka masih bisa menjaga diri dari prilaku – prilaku yang menyimpang. Hal ini dikarenakan masih hidupnya nilai-nilai ketuhanan didalam hatinya. Jadi perlu menjadi perhatian utama pemerintah bahwa dalam pembangunan ekonomi selain membangun infrastruktur harus juga diperhatikan pembangunan moral manusianya. Sehingga tidak terjadi ketimbangan dan tidak selalu bersembunyi di balik kemiskinan setiap melakukan kejahatan. Karena kemiskinan memang merupakan pintu gerbang kejahatan tetapi kemiskinan bukan faktor utama manusia melakukan kejahatan melainkan mental manusianya.

Wednesday, May 21, 2008

Kemandirian dan Daya saing bangsa

Baru saja bangsa Indonesia melakukan perhelatan akbar memperingati 100 tahun kebangkitan bangsa. Pada hari peringatan itu Presiden RI mencanangkan untuk kebangkitan bangsa melalui Kemandirian dan Daya saing. lalu, bagimanakah langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing bangsa. Karena apapun ceritanya tidak mungkin kedua hal tersebut dapat tercapai tanpa sebuah proses.
Kemandirian bukan berarti bahwa bangsa Indonesia dapat hidup tanpa bantuan bangsa lain. tetapi kemandirian adalah bagaimana bangsa Indonesia dapat menyelesaikan segala masalah internal tanpa harus mengikutsertakan pihak luar. dari sisi ekonomi, kata kemandirian berarti merupakan suatu proses bagaimana membentuk perekonomian yang mampu bangkitkan kreativitas sehingga mampu menciptakan peluang - peluang baru dalam perekonomian.